About Me

header ads

Kritik Evocatif Masjid Al Furqon Lampung

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Hallo, kali ini saya akan mengkritik Masjid Al Furqon Lampung, dengan metode kritik interpretatif yang bagian evokatif, sebelum ke topik utama sebaiknya kita kenal dulu sama yang namanya kritik evokatif ini, jadi kritik evokatif ini masih bagian dari kritik interpretatif (untuk lebih jelasnya nanti akan saya buat artikel khusus ), kritik evokatif lebih kurangnya adalah kritik yang membangkitkan rasa, menggugah pemahan intelektual atas makna yang dikandung pada suatu bangunan, kritik memakai metode ini tudak mengungkap suatu objek melainkan pengungkapan pengalaman perasaan akan ruang.

Oke kembali ke topik, seperti yang telah saya tuliskan diatas, objek yang saya kritik memakai metode evokatif kali ini adalah Masjid Al Furqon, Lampung. Alasan saya memilih masjid ini sebagai objek, karena menurut saya pribadi masjid ini selain merupakan ikon dari Lampung sendiri juga memiliki sense sendiri saat saya mengunjunginya, sehingga cocok untuk dijadikan objek kritik evokatif kali ini.

MASJID AGUNG AL-FURQON BANDAR LAMPUNG

 

Mendekati teluk betung utara, ada satu hal yang membuat mata ini terpancing, Masjid Al – Furqon, masjid yang sekaligus menjadi pusat dari teluk betung ini berhasil menyesuaikan diri dengan keramaian kota, masjid yang memiliki fungsi utama sebagai tempat ibadah ini menggunakan gaya yang cukup unik namun juga sesuai dengan esensinya. Sebagai pengunjung yang masih tergolong muda saya merasa masjid ini cukup memainkan keterlibatan cahaya, terutama pada saat sore hari, hari itu saya merasakan sensasi yang cukup menarik saat masuk ke masjid ini, saat saya menaiki tangga kaki saya terasa dingin oleh lantai keramik berbentuk persegi, handle pintu licin dan dingin dalam genggaman, wangi kayu pada pintu tercium saat melewatinya, suara berat pintu yang menutup membuat suasana yang tenang dan syahdu menyelimuti ruangan, pantulan sayu pada anak tangga keramik, serta kaca patri yang bertuliskan ﷲ berfungsi dengan baik dalam memasukkan cahaya di area koridor, sehingga kulit yang terpapar langsung merasakan hangatnya sinar matahari sore. (Kritik oleh saya sendiri)

 


Selain bangunannya yang dapat memikat mata, pelataran dan area sidewalk di depan tapak Masjid juga sangat “sopan” di mata. Bahkan saya masih ingat persis seperti apa indahnya sejak pertama kali melihatnya. Di tepi Jalan Diponegoro, terpampang jelas tulisan ‘Masjid Agung Al-Furqon Bandar Lampung’ ala landmark kebanggaan Hollywood yang ada di tengah kota Los Angeles, California. Berada di tepi jalan yang penuh dengan kesibukan kota dimana banyak kendaraan yang berlalu lalang, mebuatnya eye-catching dan mudah dikenali oleh banyak orang yang melihatnya. Selain itu, sidewalk yang didesain dan dirawat dengan baik, membuat saya sebagai pejalan kaki merasa nyaman menggunakan jalur pedestrian yang ada di kawasan Masjid. Taman-taman kecil dengan bunga bermekaran yang ada di tepi jalan membuat saya tidak jenuh berjalan dan juga elevasi lahan Masjid yang lebih tinggi di atas permukaan jalan, membuat saya penasaran dengan si Masjid. Melalui desain yang dirancang dan pengalaman yang diberikan, menurut saya Masjid ini sukses mengundang orang-orang untuk datang dan meluangkan waktu bersamanya. (kritik oleh Yoga Gama Putra)

   




Terima kasih,Semoga Bermanfaat

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Posting Komentar

0 Komentar