About Me

header ads

Utilitas bangunan, pengertian, dan macam-macamnya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Apa itu utilitas??

Utilitas adalah suatu kelengkapan pada bagian bangunan yang berfungsi untuk menunjang bagian kenyamanan, kesehatan, mobilitas, serta keamanan pada penghuni bangunan itu sendiri.

Seorang arsitek atau pendesain bangunan harus memperhatikan aspek utilitas pada setiap bangunan yang dia desain, guna untuk membuat penghuni merasa nyaman saat menghuni bangunan yang ia desain atau rancang.

Lalu apa aja sih aspek-aspek yang termasuk kedalam utilitas bangunan?

  1. Plambing dan Sanitasi



    Tentunya plambing dan sanitasi termasuk kedalam utilitas bangunan, untuk itu seorang perancang harus benar-benar memperhatikan rancangannya dalam meletakkan toilet, shaft toilet, pemipaan dll.

    Biasanya peletakkan toilet untuk rumah atau bangunan yang memiliki lebih dari satu lantai, disarankan untuk berada dalam satu jalur vertikal, sehingga mempermudah

    dalam peletakkan pipa nantinya, baik pipa air kotor atau air bersih, salah satu alasan lain kenapa disarankan untuk satu jalur adalah untuk memperkecil kemungkinan bocornya pipa karena sedikitnya area belokkan, dan mempermurah biaya maintancenya jika tetap terjadi kebocoran pada pipa.

    Untuk standar-standarnya seperti jarak septic tank dari sumur, atau besaran-besaran pipa yang biasa dipakai untuk air kotor dan bersih, bisa ditemukan dalam aturan-aturan terkait, baik dalam peratruran daerah ataupun SNI.

  2. Sistem pencegah kebakaran



    Dalam mendesain sebuah bangunan, sistem kebakaran juga sebaiknya diperhatikan guna untuk mencegah jatuhnya korban pada bangunan yang kita rancang, hal-hal yang sebaiknnya diperhatikan itu contohnya seperti tangga kebakaran, lift kebakaran, area evakuasi yang terdapat pada satu lantai penuh, akses pemadam kebakaran dari luar ke gedung, jarak antar bangunan yang didesain dengan bangunan disekitar, dll.

    Untuk tangga dan lift kebakaran, biasanya terdapat pada ruang yang di khususkan, sehingga juga terdapat lobby kebakaran, ruang kebakaran ini biasanya tahan akan api selama beberapa jam sehingga ketebalan dindingnya pun berbeda dari dinding biasa. Lalu untuk pintunya pada lantai pertama menghadap keluar, untuk lantai 2 dst menghadap ke dalam, hal itu agar pengunjung yang sedang berlari saat terjadinya kebakaran tidak sibuk lagi untuk membuka pintunya, melainkan hanya tinggal mendorongnya saja. 

    Sistem yang bisanya dipakai untuk mencegah kebakaran lebih jauh bisannya dengan meletakkan Hydran dan menggunakan sistem sprinkler.

    Adapun standar-standar yang biasanya dipakai dalam mendesain bisa dilihat dalam
    Permen PU no 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Kebakaran Pada  Bangunan Gedung dan Lingkungan.

  3. Sistem penghawaaan ruangan



    Untuk menciptakan kenyamanan bagi pengguna gedung, tentunya sistem penghawaan juga tidak luput dari bagian rancangan kita sebagai seorang arsitek, mau sistemnya alami ataupun menggunakan AC, semuanya masih harus kita desain agar penghuni bangunan gedung yang kita desain merasa nyaman, dan sehat.

    Jika kita mendesain dengan sistem alami, mungkin dengan membuat banyak bukaan pada area yang panas menjadi salah satu jawabannya, namun masalahnya tidak semudah itu, untuk membuat sistem alami, perlu dilakukan kajian terlebih dahulu terhadap area yang akan kita desain, baik dari rata-rata temperatur, curah hujan, kecepatan angin, serta orientasi bangunan yang akan kita desain, semuanya akan berpengaruh pada penghawaan alami, namun jika semua data berhasil didapat, dan kamu berhasil menciptakan bangunan yang menyesuaikan dengan keadaan iklim sekitarnya, maka bangunan rancangan mu akan menjadi bangunan yang ramah lingkungan serta sangat murah akan penggunaan listrik.

    Sementara jika ingin menggunakan sistem AC, tentunya biaya akan menjadi lebih mahal, namun jika dirasa mencari data-data sekitar area terlalu merepotkan, penggunaan AC merupakan salah satu solusinya.

    Untuk AC sendiri itu dibagi menjadi 2 yaitu AC central, dan Non central, untuk AC central biasanya diletakaan pada bangunan dengan luasan lebih dari 1000 m2, contohnya seperti mall, perpustakaan, dll.

    Adapun jenis AC central juga ada 2 jenis jika berdasarkan kondensornya yaitu Air Cooler (pendingin dengan udara) dan Water Cooler (pendingin dengan air).


    Lalu untuk AC non Central jenisnya sendiri itu juga ada lumayan banyak mulai dari :

    - Ac split
    - Ac Floor standing
    - Ac window
    - Ac Cassette


  4. Penerangan dan titik lampu



    Peletakkan titik lampu dan jenis-jenis lampu yang akan dipakai pada sebuah bangunan juga tidak luput dalam desain kita.

    Biasanya yang kita desain adalah jumlah titik lampu, jarak antar lampu, peletakkan MCB box, sekring, maupun ruang genset jika bangunan yang kita desain memakai genset. Oleh karena itu pengetahuan tentang jenis-jenis lampu juga sangat berperan dalam pendesainan ini.

    Oke sekalian saja, untuk jenis-jenis lampu yang umumnya digunakan adalah sebagai berikut :


    1. Bohlam Pijar

    Lampu jenis ini cahayanya berasal dengan memanaskan kawat pijar tipis yang berada di pusat bagian dalam bohlamnya. Untuk menghasilkan cahaya pemanasan dilakukan hingga mencapai temperatur tertentu. Dengan kata lain, lampu jenis ini sebagian besar energinya digunakan untuk memproduksi panas, bukan cahaya. Karenanya, kawat pijar lebih cepat terbakar dan rusak. Walaupun harga per satuannya relatif murah, sayangnya jenis lampu ini tidak awet. Lampu jenis ini bukanlah pilihan yang tepat jika desain rumahmu memiliki konsep hemat energi.

    2. Lampu Neon

    Lampu jenis ini memanfaatkan tenaga elektrik untuk merangsang penguapan merkuri yang gelombang UV. Dari proses tersebut dihasilkan fosfor yang berpendar dan memproduksi cahaya yang menyilaukan mata. Lampu jenis ini bisa dibilang kurang cocok jika digunakan didalam rumah karena selain paparan cahaya yang terlalu terang yang bisa merusak kesehatan mata juga karena kandungan merkuri yang bisa merusak kesehatan kulit. Namun lampu jenis ini menjadi pilihan yang tepat jika digunakan untuk pabrik, toko, supermarket dan kepentingan komersial lainnya.

    3. Lampu Neon Kompak (Compact Fluorescent Ligths)

    Lampu neon kompak (CFL) secara bentuk, ukuran dan pancaran cahaya bisa dibilang hampir sama dengan lampu bohlam pijar. Namun tidak seperti lampu bohlam yang menggunakan panas untuk menghasilkan cahaya, CFL menggunakan tenaga listrik untuk menghasilkan cahaya dan bisa bertahan tujuh kali lebih lama dibanding lampu bohlam pijar.

    Banyak juga yang bilang kalau lampu CFL ini merupakan versi kecil dari lampu neon. Lampu jenis ini bisa digunakan untuk penerangan rumah tangga dengan durasi hingga tujuh tahun. Namun karena mengandung merkuri sama seperti lampu neon, jadi harap untuk membatasi penggunaannya. Jangan dinyalakan jika memang tidak terlalu perlu untuk dinyalakan. Lampu ini juga cocok digunakan di ruang makan, dapur dan taman.

    4. HID

    HID kepanjangan dari High Intensity Discharge, menghasilkan cahaya yang sangat terang dan memiliki daya tahannya hingga 20.000 jam. Namun lampu ini sebaiknya tidak digunakan untuk tempat tinggal karena menghasilkan radiasi UV yang cukup besar. Kalaupun ingin digunakan, harus dilengkapi dengan filter untuk menyaring radiasi yang dapat merusak kulit tersebut. HID biasanya digunakan untuk pencahayaan di area yang sangat luas. Misalnya stadion, lapangan atau toko berukuran besar.

    5. Hybrid Halogen CFL

    Lampu ini mengombinasikan tiga teknologi, CFL; halogen dan pijar untuk menciptakan bohlam hybrid. Memiliki ukuran yang kecil seperti bohlam pijar, namun dengan cahaya yang lebih terang dan tahan lama. Cukup nyaman dan efisien baik untuk penggunaan rumah tangga maupun industrial. Lampu ini juga terbilang aman karena sudah mengantungi sertifikat dari Environmental Protection Agency dan US Department of Energy. Ketahanannya delapan kali lebih lama dibandingkan lampu pijar standar.

    Untuk standar-standar peletakkan lampu, dan sebagainya dapat dilihat dalam buku PUIL 2011.

  5. Sistem Transportasi dalam bangunan



    Perlu digaris bawahi yang dimaksud dengan transportasi disini bukanlah transportasi sejenis mobil, motor ataupun kendaraan beroda lainnya, melainkan transportasi vertikal yang terdapat dalam bangunan, misalnya seperti tangga, lift (elevator), eskalator, dll

    Untuk bangunan yang memiliki 4 lantai atau lebih biasanya akan memakai lift (elevator) sebagai salah satu transportasi vertikalnya, sementara untuk bangunan yang berlantai dua biasanya hanya memakai tangga saja namun bukan berarti untuk bangunan berlantai dua tidak bisa bisa menggunakan lift, semua itu bisa saja dilakukan asal memiliki modal yang cukup hehehe.

    Untuk lift sendiri ada beberapa jenisnya, jika dibagi berdasarkan fungsi maka :

    - Lift penumpang/penghuni gedung
    - Lift Barang/untuk service 
    - Lift untuk pemadam kebakaran
    - Lift untuk rumah sakit.

    Sementara jika dibagi berdasarkan tipe penggerakknya maka didapatkan dua jenis yaitu :

    - Lift Elektrik yang memanfaatkan listrik sebagai sumber energi utama

    - Lift Hidrolik yang bergerak dengan menggunakan cairan yang diberikan tekanan sebagai energi utamanya, lift jenis ini umumnya lebih lambat jika dibandingkan dengan lift bertenaga listrik.

  6. Sistem Penangkal Petir

    Sistem penangkal petir atau penangkap petir, untuk saat ini yang saya ketahui hanya dua jenis yaitu sistem penangkal petir konvensional dan sistem penangkal petir elektrostatis, lalu apa perbedaan dan keunggulan keduanya ?

    Untuk penangkal petir konvensional bisanya digunakan untuk rumah-rumah yang tidak terlalu tinggi, karena jangkauan penangkal jenis ini tidak terlalu luas, sehingga dibutuhkan banyak splitzer (antena) yang lumayan banyak jika digunakan pada bangunan yang membutuhkan perlindungan berskala luas. Dan untuk biaya sendiri biasanya akan lebih mahal karena memang area yang bisa dilindungi relatif kecil, sehingga pastinya akan membutuhkan banyak kabel juga, dan yang tak lebih penting juga menimbang risiko dari kebocoran atap pada area splitzer (antena) yang dipasang.

    Untuk penangkal petir elektrostatis biasanya lebih banyak digunakan dan lebih direkomendasikan untuk bangunan-bangunan tinggi yang memiliki area cangkupan perlindungan yang luas, karena dari segi biaya itu lebih murah jika dibandingkan dengan penangkal petir konvensional, untuk radiusnya pun lebih luas yang mencapai 25 - 150 meter, pemasangan dan perawatan relatif lebih murah, dan karena jangakauan yang luas sehingga penggunaan kabel pun pastinya lebih sedikit jika dibandingkan dengan penangkal petir konvensional.



Terima kasih,Semoga Bermanfaat

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Posting Komentar

0 Komentar