About Me

header ads

Latar belakang dan sejarah Keindahan Masjid Istiqlal di Ibu Kota

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Keindahan Masjid Istiqlal di Ibu Kota (kritik deskriptif arsitektur)


Masjid Istiqlal
sumber : foursquare.com

Penulis : Elsa Safitri Ramadhanti, Dina Miranti, Luisa Ade Rifka.


Latar belakang pembangunan masjid


Masjid Istiqlal terletak di Pusat Ibukota Jakarta, tepatnya berada di bekas Taman Wihelmina, di timur laut Lapangan Medan Merdeka. Masjid ini dirancang oleh arsitek yang merupakan seorang Kristen Protestan yaitu Frederich Silaban. Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Istiqlal juga digunakan sebagai kantor berbagai organisasi islam serta untuk keperluan sosial, informasi, dakwah, pendidikan, dan kegiatan masyarakat lainnya. Masjid ini mampu menampung 200.000 Jamaah.

Pembangunan Masjid Istiqlal dimulai setelah Indonesia merdeka tepatnya empat tahun setelah proklamasi kemerdekaan, dimana muncul gagasan dari Ir. Soekarno untuk mendirikan sebuah masjid nasional. Gagasan pembangunan masjid ini dilatarbelakangi oleh tradisi Bangsa Indonesia yang sejak zaman kerajaan purba berhasil membangun bangunan keagamaan kerajaan Hindu-Budha yaitu Candi Borobudur dan Prambanan. Oleh karena itu, muncul gagasan untuk mendirikan masjid nasional sebagai wujud identitas keagamaan dari negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Pada tahun 1950, terjadi pertemuan sejumlah tokoh islam di Deca Park untuk membahas rencana pembangunan masjid. Pertemuan tersebut dipimpin oleh KH. Taufiqurrahman dan dihadiri oleh KH. Wahid Hasyim selaku Menteri Agama pada saat itu, serta H. Anwar Tjokroaminoto dari partai Syarikat Islam sekaligus ditunjuk sebagai Ketua Yayasan dan Ketua Panitia pembangunan Masjid Istiqlal. Pada tahun 1953, Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal menyampaikan rencana pembangunan masjid ini kepada Presiden Soekarno. Rencana ini pun disambut dan didukung sepenuhnya oleh beliau. 

Pada tanggal 7 Desember 1954, Yayasan Masjid Istiqlal disahkan dihadapan Notaris Eliza Pondaag. Dukungan yang diberikan oleh Presiden Soekarno dengan ikut berpartisipasi sebagai Ketua Dewan Juri dalam Sayembara Maket Masjid Istiqlal yang diumumkan melalui surat kabar dan media lain pada tanggal 22 Februari 1955. Selain Presiden Soekarno yang menjadi Ketua Dewan Juri, terdapat beberapa anggota yang merupakan Arsitek dan Ulama terkenal mulai dari Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo, Ir. Djoeanda Kartawidjaja, Ir. Suwardi, Ir. R. Ukar Bratakusumah, Rd. Soeratmoko, H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), Aboebakar Atjeh, dan Oemar Husein Amin.


Proses desain masjid diadakan dengan sayembara

Sayembara berlangsung mulai tanggal 22 Februari 1955 sampai dengan 30 Mei 1955. Jumlah peserta mencapai 30 peserta. Dari jumlah tersebut, terdapat 27 peserta yang menyerahkan sketsa dan maketnya, namun hanya 22 peserta yang memenuhi persyaratan lomba. Setelah menilai dan mengevaluasi, pada tanggal 5 Juli 1955 dewan juri memutuskan pemenang pertama diraih oleh Fredrerich Silaban dengan mengangkat konsep Ketuhanan.

Konsep Ketuhanan tersebut terdapat pada menara yang memiliki ketinggian 6.666 sentimeter yang melambangkan banyaknya ayat dalam Al-Quran dan menara material antikarat yang memiliki tinggi
30 meter melambangkan jumlah juz dalam Al-Quran. Bagian kubah utama berukuran 45 meter melambangkan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945. Kubah tersebut memiliki 12 tiang penopang yang digunakan sebagai ruang ibadah utama yang diartikan sebagai tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW yaitu 12 Robiul Awal. Jumlah lantai pada masjid ini melambangkan jumlah rukun islam dan Pancasila sebagai falsafah kebangsaan Indonesia.


Proses Pembangunan Masjid Isttiqlal 
sumber: 1001indonesia.net

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Presiden Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961. Selanjutnya pelaksanaan pembangunan ini tidak berjalan lancar dan tidak mengalami banyak kemajuan. Proyek ini tersendat karena situasi politik yang kurang kondusif. Dimulai dari berlakunya demokrasi parlementer, pertikaian partai-partai politik demi kepentingannya masing-masing, hingga puncak dari permasalahan politik ini adalah peristiwa G30S/PKI yang terjadi pada tahun 1965.

Setelah situasi politik mereda, pada tahun 1966, Menteri Agama KH. Muhammad Dahlan mempelopori kembali pembangunan masjid ini. Kepengurusan dipegang oleh KH. Idham Chalid yang bertindak sebagai Koordinator Panitia Nasional Pembangunan Masjid Istiqlal. Pada tanggal 22 Februari 1978, Masjid Istiqlal diresmikan oleh Presiden Soeharto ditandai dengan prasasti yang dipasang di area tangga pintu As-Salam.


Style Arsitektur

Arsitektur yang diterapkan pada masjid ini berupa prinsip minimalis dengan gaya Islam Modern Internasional dengan menerapkan bentuk-bentuk geometri sederhana dalam ukuran besar sehingga menimbulkan kesan agung dan monumental. Material yang diterapkan pada masjid ini berupa material yang bersifat kokoh, netral, sederhana, dan minimalis yaitu marmer putih dan baja antikarat. 

Masjid ini memiliki ornamen-ornamen yang bersifat sederhana namun elegan, yaitu pola geometris berupa ornamen logam krawangan berpola lingkaran, kubus atau persegi. Selain berfungsi sebagai unsur estetik pada bangunan, ornamen tersebut juga berfungsi sebagai penyekat, jendela, atau lubang udara. Bagian dalam kubah, langit-langit serta dua belas pilar utama penyangga kubah pada masjid ini dilapisi baja antikarat.

Arsitektur Masjid Istiqlal
pinterest.com

Bangunan ini memiliki konstruksi kokoh yang didominasi oleh batuan marmer pada tiang-tiang, lantai, dinding dan tangga serta baja antikarat pada tiang utama, kubah, puncak menara, plafon, dinding, pintu krawangan, tempat wudhu, dan pagar keliling halaman. Selain itu Masjid Istiqlal juga merupakan obyek wisata religi, pusat pendidikan, dan pusat aktivitas Syiar Islam. Wisatawan juga dapat melihat perpaduan antara Arsitektur Indonesia, Timur Tengah, dan Eropa.




Kubah Masjid Istiqlal 
sumber : toploadingforlife.com

Bagian dalam kubah masjid berhiaskan kaligrafi yang merupakan hasil adopsi arsitektur Timur Tengah. Sedangkan bentuk tiang dan dinding yang kokoh dipengaruhi gaya arsitektur Barat. Selain itu, Arsitektur Masjid Istiqlal juga menampilkan pendekatan yang unik berbagai serapan budaya dalam komposisi yang harmonis. Perpaduan itu menunjukkan kuatnya pemahaman yang menghargai berbagai budaya dari masyarakat yang berbeda, dan ditempatkan sebagai potensi untuk membangun harmoni serta toleransi antar umat beragama, dalam rangka membina kesatuan dan persatuan bangsa.

Masjid Istiqlal dilengkapi dengan taman seluas 4,15 Ha, dibagi menjadi 23 lokasi dan masing-masing diberi nama sesuai dengan nama pepohonan yang dominan berada di lokasi tersebut. Taman yang rindang juga berfungsi sebagai hutan kota. Selain itu, untuk menambah indahnya panorama di Masjid Istiqlal, di halaman bagian selatan terdapat taman dengan luas 2.803 meter persegi. Terdapat pula kolam air mancur yang ditempatkan ditengah-tengah dengan luas taman 8.490 meter persegi. Dengan demikian menjadikan suasana masjid terasa sejuk sehingga menambah kekhusyuan beribadah bagi para jamaah.

Masjid ini dapat di kunjungi oleh pengunjung Muslim maupun non-Muslim. Pengunjung non- Muslim harus mengikuti tata cara mengunjungi masjid seperti melepaskan alas kaki dan menggunakan pakaian yang sopan. Pengunjung non-Muslim diberikan batasan dalam mengunjungi masjid ini, seperti tidak diperbolehkan memasuki ruang utama tempat mihrab dan mimbar. Namun, pengunjung non- Muslim diperbolehkan melihat bagian dalam ruangan seperti balkon lantai dua, pelataran terbuka, selasar, kaki menara, dan koridor masjid dengan didampingi oleh pemandu. Masjid ini juga turut menjadi simbol kedekatan dan keharmonisan antarumat beragama karena letaknya yang bersebelahan dengan Gereja Katedral. Bahkan, kendaraan umat Katolik yang sedang menjalankan ibadah di gereja diperkenankan untuk menggunakan lahan parkir Masjid Istiqlal.




Terima kasih,Semoga Bermanfaat

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Posting Komentar

0 Komentar